SKRIPSI: Pengaruh Mekanisme Corporate Governance

1.Latar belakang penelitian

Perusahaan mempunyai tujuan dalam jangka panjang untuk mengoptimalkan nilai perusahaan. Jika nilai perusahaan Semakin tinggi maka pemiliknya semakin sejahtera pula. Nilai perusahaan akan tercermin dari harga pasar sahamnya. Penyatuan kepentingan pemegang saham dan manajemen yang notabene merupakan pihak-pihak yang mempunyai kepentingan terhadap tujuan perusahaan seringkali menimbulkan masalah-masalah (agency problem) (Sukmawati, 2004). Agency problem dapat dipengaruhi oleh struktur kepemilikan baik kepemilikan manajerial maupun kepemilikan institusional). Beberapa peneliti percaya Struktur kepemilikan mampu mempengaruhi jalannya perusahaan serta kinerja perusahaan dalam mencapai tujuan perusahaan yaitu maksimalisasi nilai perusahaan.

Perusahaan untuk mengoptimalkan nilai perusahaan membutuhkan Informasi tentang laba perusahaan. Karena laba perusahaan dapat digunakan untuk mengukur keberhasilan atau kegagalan bisnis dalam mencapai tujuan organisasi yang ditetapkan. Kreditur dan investor menggunakan informasi tentang laba perusahaan untuk mengevaluasi kinerja manajemen, memperkirakan earnings power, dan untuk memprediksi laba di masa yang akan datang. Laba perusahaan memiliki kemampuan untuk memberikan respon (power of response) kepada pasar. Kemampuan tersebut menunjukkan kualitas laba yang dapat diukur dengan ERC (earnings response coefficient). Kualitas laba ini diduga dipengaruhi oleh faktor mekanisme dalam pengelolaan perusahaan (corporate governance mechanism) yaitu mekanisme kepemilikan institusional, kepemilikan manajerial dan komposisi dewan komisaris (Darmawati, dkk, 2005).

Isu corporate governance muncul karena terjadinya pemisahan antara kepemilikan dan pengelolaan perusahaan (Berle dan Means dalam Gunarsih, 2003). Pemisahan fungsi antara pemilik dan manajemen ini memiliki dampak negatif yaitu keleluasaan manajemen (pengelola) perusahaan untuk memaksimalkan laba. Hal ini akan mengarah pada proses memaksimalkan kepentingan manajemen sendiri dengan biaya yang harus ditanggung oleh pemilik perusahaan. Richardson dalam Gunarsih (2003) menjelaskan bahwa kondisi ini terjadi karena asymmetry information antara manajemen dan pihak lain yang tidak memiliki sumber dan akses yang memadai untuk memperoleh informasi yang digunakan untuk memonitor tindakan manajemen.

Berdasarkan teori keagenan (agency theory), adanya pemisahan antara kepemilikan dan pengelolaan suatu perusahaan dapat menimbulkan masalah keagenan (agency problems). Yaitu ketidaksejajaran kepentingan antara principal (pemilik/pemegang saham) dan agent (manajer). Jansen dan Meckling dalam Pratana dan Mas’ud (2003) memandang baik principal dan agent merupakan pemaksimum kesejahteraan, sehingga ada kemungkinan besar bahwa agent tidak selalu bertindak sesuai kepentingan principal. Konflik ini terjadi akibat kecenderungan manajer untuk mencari keuntungan sendiri (moral hazard) dengan mengorbankan kepentingan pihak lain (Kiryanto dan Edi, 2006).

Masalah keagenan (agency problem) dapat diminimalkan dengan menerapkan good corporate governance. Yaitu mekanisme pengawasan yang dapat mensejajarkan kepentingan-kepentingan yang terkait. Corporate governance diperlukan untuk mengendalikan perilaku pengelola perusahaan agar bertindak bukan hanya untuk kepentingan dirinya sendiri, tetapi juga untuk kepentingan pemilik perusahaan. Kepentingan utama pemilik dana adalah memperoleh return yang memadai atas dana yang ditanamkan. Pengelola akan mengutamakan kepentingan pemilik apabila aktivitas yang dilakukan dan keputusan yang diambil ditujukan untuk meningkatkan nilai perusahaan. Hal ini berarti juga akan meningkatkan kekayaan pemilik.

Corporate governance merupakan serangkain mekanisme untuk melindungi pihak-pihak minoritas (outsider investors/minority shareholder) dari ekspropirasi yang dilakukan oleh manajer dan pemegang saham pengendali (insider) dengan penekanan pada mekanisme legal (Shleifer dan Vishniy dalam Darmawati, dkk, 2005). Bernhart dan Rosenstein dalam Sukmawati (2004) menyatakan beberapa mekanisme (mekanisme corporate governance) seperti mekanisme internal, seperti struktur dan dewan komisaris, serta mekanisme eksternal seperti pasar untuk kontrol perusahaan diharapkan dapat mengatasi masalah keagenan.

Pratana dan Mas’ud (2003) menyatakan bahwa kepemilikan manajerial dan kepemilikan institusional berpengaruh terhadap kualitas laba. Shleifer dan Vishniy dalam Hamonangan dan Mas’ud (2006) juga menyatakan bahwa Tobin’s Q (nilai perusahaan) meningkat dan kemudian menurun searah dengan peningkatan kepemilikan manajerial.

Hasil penelitian Hamonangan dan Mas’ud (2006) menunjukkan bahwa kepemilikan manajerial, dewan komisaris, dan komite audit berpengaruh terhadap kualitas laba. Hasil penelitiannya juga menunjukkan bahwa kualitas laba secara positif berpengaruh terhadap nilai perusahaan. Komite audit yang tergabung dalam BIG 2 akan meningkatkan nilai perusahaan.

Kualitas laba bukan sebagai intervening variable diduga karena proksi yang digunakan pada penelitian sebelumnya menggunakan discretionary accrual, selain itu, untuk menentukan apakah kualitas laba berperan sebagai intervening variable hubungan antara mekanisme corporate governance dan nilai perusahaan yaitu hanya dengan melihat apakah koefisien beta variabel independen mengalami penurunan atau tidak.

 Berdasarkan latar belakang tersebut, maka peneliti akan mengangkat dan membahas permasalahan tersebut dengan judul “PENGARUH MEKANISME CORPORATE GOVERNANCE TERHADAP NILAI PERUSAHAAN DENGAN KUALITAS LABA SEBAGAI VARIABEL INTERVENING”. Penelitian ini merupakan replikasi dari penelitian Hamonangan dan Mas’ud (2006). Peneliti mengambil judul ini untuk menguji apakah hasil penelitian ini konsisten atau tidak dengan penelitian terdahulu. Penelitian ini terdapat beberapa perbedaan dengan penelitian Hamonangan dan Mas’ud (2006). Pertama dengan proksi kualitas laba yang berbeda, yaitu dengan menggunakan ERC (Earnings Response Coefficient).  Kedua, tahun pengamatan pada tahun 2001 sampai dengan 2005. Ketiga, Alat uji yang digunakan berbeda, yaitu dengan path analysis. Alasan peneliti menggunakan path analysis karena analisis ini dapat memberikan secara eksplisit hubungan kausalitas dan pengaruh antar-variabel berdasarkan teori.

 

2.Batasan masalah penelitian

Penelitian ini terbatas pada variabel penelitian yaitu variabel mekanisme corporate governance yang terdiri dari variabel kepemilikan manajerial, dewan komisaris, komite audit, dan kualitas laba. Kualitas laba juga diperlakukan sebagai variabel interveningnya. Sementara, nilai perusahaan dalam penelitian ini menggunakan Tobin’s Q.

 

3.Rumusan masalah penelitian

Rumusan  masalah dalam penelitian ini adalah:

  1. Apakah kepemilikan manajerial berpengaruh terhadap kualitas laba?
  2. Apakah dewan komisaris berpengaruh terhadap  kualitas laba?
  3. Apakah komite audit berpengaruh terhadap kualitas laba?
  4. Apakah secara simultan mekanisme corporate governance berpengaruh terhadap kualitas laba?
  5. Apakah kualitas laba berpengaruh terhadap nilai perusahaan?
  6. Apakah secara parsial mekanisme corporate governance berpengaruh terhadap nilai perusahaan?
  7. Apakah secara simultan mekanisme corporate governance berpengaruh terhadap nilai perusahaan?
  8. Apakah kualitas laba sebagai variabel intervening dalam hubungan antara mekanisme corporate governance dengan nilai perusahaan?

 

4.Tujuan penelitian

Tujuan penelitian ini adalah:

  1. Untuk menguji pengaruh kepemilikan manajerial terhadap kualitas laba.
  2. Untuk menguji pengaruh dewan komisaris terhadap kualitas laba.
  3. Untuk menguji pengaruh komite audit terhadap kualitas laba.
  4. Untuk menguji secara simultan pengaruh mekanisme corporate governance terhadap kualitas laba.
  5. Untuk menguji pengaruh kualitas laba terhadap nilai perusahaan.
  6. Untuk menguji secara parsial pengaruh mekanisme corporate governance terhadap nilai perusahaan.
  7. Untuk menguji secara simultan pengaruh mekanisme corporate governance terhadap nilai perusahaan.
  8. Untuk menguji apakah kualitas laba sebagai variabel intervening dalam hubungan antara mekanisme corporate governance dan nilai perusahaan.

 

5.Manfaat penelitian

  1. Manfaat di bidang teoritik
    1. Dapat menambah wawasan pengetahuan tentang pengaruh mekanisme corporate governance terhadap nilai perusahaan dengan kualitas laba sebagai variabel intervening.
    2. Dapat menjadi acuan penelitian serupa di masa yang akan datang.
  2. Manfaat di bidang praktik
    1. Memberikan masukan bagi perusahaan untuk mengendalikan pihak-pihak yang terlibat dalam pengelolaan perusahaan, sehingga dapat menekan terjadinya masalah keagenan (agency problem).
    2. Memberi masukan bagi para investor dalam pengambilan keputusan agar tidak hanya terfokus pada informasi laba, tetapi juga mempertimbangkan informasi non-keuangan, seperti mekanisme pengelolaan perusahaan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *