Scroll untuk baca artikel
banner 325x300
Example 970x250
Sosial

Fakta Unik Destinasi Wisata Dataran Tinggi Dieng

×

Fakta Unik Destinasi Wisata Dataran Tinggi Dieng

Share this article
Dataran Tinggi Dieng
Example 468x60

INDOPENA.COM – Dataran Tinggi Dieng sebenarnya adalah kawasan vulkanik aktif di Jawa Tengah, yang termasuk wilayah Kabupaten Banjarnegara dan Kabupaten Wonosobo. Letaknya berada di sebelah barat kompleks Gunung Sindoro dan Gunung Sumbing.

Nama Dieng sendiri dilatarbelakangi dari peristiwa pemindahan simbol surga yang dahulu dilakukan Sang Hyang Djagadnata (Bathara Guru), sebagaimana tertuang dalam Serat Paramayoga karya R Ng Ranggawarsito tersebut.

Example 300x600

Dieng berasal dari bahasa Sanskerta Di artinya tempat yang tinggi atau gunung dan Hyang yang artinya leluhur atau dewa-dewa. Dengan begitu, Dieng berarti tempat tinggi tempat para dewa bersemayam.

Hal unik lain yang menjadi sorotan di Dataran Tinggi Dieng adalah Anak Bajang. Sekilas anak-anak ini terlihat seperti bocah normal biasa. Namun jika ditelisik lebih dekat, anak Bajang memiliki rambut gimbal alami.

Dalam mitologi Dieng, Bocah Bajang atau anak berambut gembel merupakan titisan para leluhur Dieng Plateau. Untuk anak putra, rambut gimbal menjadi pertanda titisan Kiai Kaladete yaitu Sang Penguasa Dataran Tinggi Dieng yang bersemayam di Telaga Balaikambang.

Adapun anak putri yang memiliki rambut gimbal dinilai sebagai titisan Nyai Dewi Roro Ronce, abdi penguasa Pantai Selatan Nyai Roro Kidul. Terdapat momentum rambut gimbal ini akan dipotong dengan melakukan ritual tertentu. Uniknya, rambut baru bisa dipotong ketika sang anak yang meminta disertai kudangan (permintaan) tak biasa untuk anak berusia belia.

Selain bocah gimbal, Carica dan Purwaceng menjadi dua jenis tanaman yang hanya tumbuh di Dataran Tinggi Dieng.

Carica atau dikenal sebagai pepaya gunung hanya bisa tumbuh di ketinggian 1500-3000 meter di atas permukaan laut. Buah yang besarnya seukuran mangga itu memang berasal dari Pegunungan Andes, Amerika Serikat.

Konon, buah Carica dibawa ke Dieng oleh pemerintah kolonial Belanda menjelang Perang Dunia II. Penduduk Dieng mengolah carica menjadi manisan, keripik, dodol, dan sirup. Rasanya yang manis membuat buah satu ini jadi buah tangan andalan wisatawan yang berkunjung.

Adapun Purwaceng dijuluki sebagai ginseng Jawa karena perawakannya yang mirip ginseng dari Tiongkok. Purwaceng sebenarnya bisa ditumbuhi di seluruh wilayah dataran tinggi Jawa. Uniknya, hanya di Dieng tumbuhan ini bisa tumbuh dengan subur.

Salah satu khasiat Purwaceng yang membuatnya terkenal yaitu meningkatkan vitalitas pria di ranjang. Tumbuhan jenis ini biasanya diolah menjadi bubuk lalu dicampurkan ke dalam secangkir kopi.

Bicara mengenai salju, selama ini masyarakat Indonesia mengenal salju di Puncak Jaya Wijaya, Papua. Siapa sangka, Dieng juga memiliki fenomena turun salju sendiri.

Pada musim kemarau yang jatuh pada bulan Juli-Agustus, temperatur di kawasan Dieng sangat menusuk tulang. Berada di ketinggian 2000 meter di atas permukaan laut, suhu di Dieng bisa sangat rendah.

Saat pagi hari, suhu bisa turun hingga -1 derajat celcius dan naik menjadi 10-15 derajat celcius pada siang hari. Inilah momentum Anda dapat menyaksikan embun beku pada dedaunan yang oleh penduduk lokal dijuluki bun upas alias embun racun. Disebut demikian karena embun ini merusak tanaman komoditas penduduk.

Nampaknya bukan Dieng jika tidak menyajikan kejutan, salah satunya kawanan domba. Lho, bukannya domba adalah hal biasa di Indonesia?

Faktanya, Domba DoDi alias Domba Dieng adalah spesies domba yang habitatnya hanya di Dieng! Salah satu hal menonjol yang membedakannya dengan domba lokal lainnya adalah bulu wolnya yang cenderung lebih tebal.

DoDi ini adalah jenis domba Texel yang didatangkan oleh pemerintah Indonesia dari Belanda sekitar tahun 1954 dan 1955 sebanyak 500 ekor. Mengingat domba ini hanya dapat bertahan di tempat beriklim dingin seperti negara asalnya, Dieng dipilih karena suhunya dianggap menyamai Belanda nun jauh disana.

Adalah Desa Sembungan, sebuah desa yang terletak di ketinggian 2306 meter di atas permukaan laut. Dihuni lebih dari 1300 jiwa, desa ini dipercaya sebagai desa induk di kawasan Dieng. Seiring perkembangan, warga desa pun menyebar membentuk desa lainnya.

Desa ini akan dilewati oleh wisatawan yang hendak menanjak Puncak Gunung Sikunir. Berjarak sekitar 7 kilometer dari pusat wisata, Anda akan sangat mudah menemukan kebun buah carica di desa Sembungan.

Selain indah, Dieng menyimpan ragam mitos menarik, salah satunya Telaga Warna. Sesuai namanya, telaga ini kerap berubah warna tergantung dari ketinggian berapa pengunjung melihatnya.

Kadang telaga ini berwarna hijau dan kuning, atau bisa juga warna warni seperti pelangi. Fenomena itu bisa terjadi karena air mengandung sulfur yang cukup tinggi.

Di balik keindahannya, telaga ini menyimpan kisah. Syahdan, ada seorang putri yang cantik dan dua orang ksatria. Oleh sang ratu, dua ksatria ini ditantang untuk membuat telaga demi menentukan siapa yang pantas menjadi suaminya. Akhirnya, jadilah yang sekarang dikenal sebagai Telaga Menjer dan Telaga Pengilon.