Scroll untuk baca artikel
banner 325x300
Example 970x250
PeristiwaTeknologi

Jaringan Penipuan Online Gunakan Modus Love Scamming

×

Jaringan Penipuan Online Gunakan Modus Love Scamming

Share this article
Love Scamming
Example 468x60

INDOPENA.COM – Direktorat Tindak Pidana Umum Bareskrim Polri mengungkap jaringan penipuan online yang menggunakan modus “Love Scamming” di kawasan Jakarta Barat.

Operasi penangkapan yang berlangsung pada 17 Januari 2024 ini mengungkap ratusan orang menjadi korban yang berasal dari sejumlah negara seperti AS, Inggris, Italia, Hungaria, Argentina hingga Indonesia.

Example 300x600

Dalam operasi yang dilakukan di Apartemen Kondominium Tower 8, Mall Taman Anggrek, Jakarta Barat ini, pihak kepolisian berhasil meringkus setidaknya 21 pelaku yang terlibat.

Berdasarkan keterangan dari Dirtipidum Polri, Brigjen Pol Djuhandani Raharjo Puro, salah satu korban dari jaringan penipuan online dengan modus “Love Scamming” ini merupakan WNI.

Sementara itu total korban dari kasus penipuan online ini tercatat mencapai 368 orang.

Dari 21 pelaku yang berhasil ditangkap 19 di antaranya merupakan WNI dan 2 sisanya adalah WNA.

“1 korban warga negara Indonesia. Kemudian warga negara asing yang menjadi korban sebanyak 367 orang. Terdiri dari warga Amerika [Serikat], Argentina, Brasil, Afrika Selatan, Jerman, Maroko, Turki, Portugal, Hungaria, Jersi, India, Jordania, Thailand, Austria, Filipina, Kanada, Inggris, Moldova, Rumania, Italia, Kolombia,” kata Djuhandani dalam konferensi pers di Bareskrim yang dilansir dari laman resmi Humas Polri, Senin, 22 Januari 2024.

Dalam konferensi pers tersebut, Djuhandani juga mengatakan para pelaku menggunakan dating app seperti Bumble, Tinder, Tantan dan Okcupid untuk melancarkan aksi mereka.

Para pelaku akan memasang profil palsu milik orang dan berpura-pura menjadi orang lain, lalu mencari mangsa di dating app.

“Pelaku-pelaku ini memanfaatkan kepercayaan korban dengan berpura-pura mencari pasangan, kemudian meminta nomor handphone untuk berkomunikasi percintaan dan mengirim foto-foto seksi,” ujarnya.

Setiap bulannya jaringan penipu ini mampu meraup uang mencapai Rp40-50 miliar dari para korban.