Scroll untuk baca artikel
banner 325x300
Example 970x250
Wisata

Jelajahi Pesona Indahnya Pulau Rote NTT

×

Jelajahi Pesona Indahnya Pulau Rote NTT

Share this article
Pulau Rote
Example 468x60

Pulau Rote terletak di Kabupaten Rote Ndao, Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT). Tepatnya, Pulau Rote terletak di Perairan Laut Sawu dan dikenal sebagai pulau paling selatan Indonesia.

Pulau Rote memiliki banyak nama. Dalam arsip Hindia Belanda, Pulau Rote ditulis dengan Rotti atau Rottij yang kemudian menjadi Roti. Masyarakat Rote yang memiliki sembilan dialek menyebut pulau ini dengan “Lote”, khususnya untuk masyarakat yang tidak dapat menyebut huruf R.

Example 300x600

Sementara, masyarakat Rote lainnya menyebut pulau ini dengan “Lolo Deo Do Tenu Hatu” artinya pulau yang gelap. Ada juga masyarakat yang menyebut “Nes Do Male” yang berarti pulau yang Layu/kering. Sebutan lainnya adalah “Lino Do Nes” yang artinya pulau sunyi.

Dalam buku berbahasa Belanda yang berjudul Land Taal & Volkenkunde Van Nederlands Indie disebutkan bahwa setelah penduduk mendiami Pulau Rote, muncul kapal-kapal Portugis. Mereka membuang jangkar dan turun ke daratan untuk mencari air tawar. Saat bertemu nelayan, orang Portugis itu menanyakan bentuk pulau tersebut.

Namun nelayan menyangka orang Portugis itu menanyakan nama pulau, kemudian dijawab Rote. Sementara, nahkoda menyangka bahwa bentuk pulau itu Rote dan menamakan pulau itu Rote. Namun keterangan ini dapat diragukan karena tidak menyebut sumber acuan secara lengkap.

Dalam dokumen Portugis abad ke-16 dan ke-17 tercantum nama seperti “Rotes” serta “Enda”. Pada pertengahan abad ke-17, persatuan dagang Hindia Belanda dalam dokumen-dokumennya menggunakan nama Rotti, dalam tiga ejaan yang berbeda yaitu “Rotti”, “Rotij”, dan “Rotty”.

Sebutan resmi ini terus digunakan hingga abad ke-20 dan diubah menjadi “Roti”. Dalam perjalanannya, nama Rote lebih banyak digunakan dalam bahasa sehari-hari. Namun dalam pengucapan bahasa daerah menimbulkan persoalan antara huruf r dan l. Huruf tersebut kerap digunakan secara bergantian untuk mengucapkan Rote, yakni Rote dan Lote.

Dokumen resmi pemerintah yang berasal dari pulau ini menggunakan nama Rote, sedangkan dokumen pemerintah pusat sebagian besar menggunakan Roti. Nama ini yang digunakan dalam peta Indonesia pada umumnya maupun peta-peta dunia saat ini. Namun umumnya, orang Rote maupun warga Nusa Tenggara Timur telah menggunakan nama Pulau Rote. Nama tersebut yang lebih populer dan familiar bagi orang Nusa Tenggara Timur.

Sebagian besar penduduk yang mendiami Pulau Rote/Kabupaten Rote adalah suku-suku kecil Rote Nes, Keo Nes, Bara Nes, Pilo Nes, dan Fole Nes. Suku-suku tersebut mendiami wilayah kesatuan adat yang disebut Nusak.

Semua Nusak yang terdapat di Pulau Rote disatukan dalam wilayah kecamatan. Masyarakat Rote Ndao mengenal yang menyebutkan bahwa awal mula orang Rote datang dari utara, yang konon kini disebut Ceylon. Mereka datang menggunakan perahu lete-lete. Bahasa orang Rote termasuk dalam rumpun Austronesia, dari Melayu Polinesia yang terbagi dalam beberapa dialek.

Mata pencaharian orang Rote adalah berladang, menangkap ikan, beternak, menyadap nia, dan kerajinan lontar. Wanita suku Rote mengerjakan kerajinan menenun kain tradisional, anyaman pandan, dan lain sebagainya. Strata sosial paling atas yaitu mane leo (leo mane), dimana sosok ini menjadi pemimpin suatu klein yang didampingi leo fetor (wakil raja).