Scroll untuk baca artikel
banner 325x300
Example 970x250
Teknologi

Kini Penyelidikan Tindak Pidana Harus Berbasis Scientific Crime Investigation

×

Kini Penyelidikan Tindak Pidana Harus Berbasis Scientific Crime Investigation

Share this article
Scientific Crime Investigation
Example 468x60

Kepala Pusat Riset Kecerdasan Artifisial dan Keamanan Siber (PRKAKS) Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) Anto Satriyo Nugroho mengatakan, saatnya penyelidikan dan penyidikan tindak pidana harus berbasis scientific.

“Scientific Crime Investigation ini sudah menjadi mandat untuk melakukan penyelidikan dan penyidikan terhadap semua tindak pidana sesuai dengan hukum.” ucap Anto pada pembukaan webinar PRKAKS Edisi ke-6 dengan tema “Biometrik dan Scientific Crime Investigation” pada Rabu (20/12).

Example 300x600

Anto menyampaikan bahwa investigasi tindak kejahatan ini membutuhkan kecermatan dan keakuratan dalam menyusun sebuah bukti. Peran dari identifikasi inilah yang memperkuat penelusuran terkait investigasi. “Nah pada pasal 14 ayat 1 huruf H ini terdapat kata Identifikasi proses yang mana berkaitan erat dengan kecerdasan artifisial yaitu teknologi biometrik,” jelas Anto.

Teknologi biometrik itu sendiri bukanlah suatu hal baru dalam investigasi tindak kejahatan, pasalnya beberapa metode telah ditemukan seperti pengenalan suara, sidik jari, wajah dan biometrik lainnya. Namun, Pesigrihastamadya Normakristagaluh, Pranata Komputer Ahli Muda BRIN menawarkan metode identifikasi dengan menggunakan pola dari pembuluh darah di jari.

“Pembuluh darah ini tidak dapat ditiru karena berada di dalam tubuh, disamping itu juga tidak meninggalkan jejak layaknya fingerprint, alat yang digunakan pun kecil dan dapat digunakan secara langsung,” terang Pesigrihastamadya dalam paparannya.

Pesi lebih lanjut menjelaskan penelitian terkait pola pembuluh darah ini tergolong masih muda namun pengembangannya terus berlanjut dari segi komersial maupun akademis.

“Meskipun demikian riset terkait pola pembuluh darah ini menemukan kendala dalam hal gambar yang kurang jelas. Hal ini mengakibatkan identifikasi jadi lebih sulit dilakukan. Melalui riset ini harapannya dapat membantu untuk memproses gambar dari pola pembuluh darah yang ada. Salah satu metodenya yaitu menggunakan Finger Phantom,” terang Pesi.

Dalam riset ini, lanjut Pesi, dalam pelaksanaannya telah dibuat jari buatan untuk memahami bagaimana formasi gambar dalam pengenalan pola pembuluh darah. “Tidak hanya membantu kita lebih memahami identifikasi tapi juga dapat menjadi ground truth,” jelasnya.

Pesi menerangkan bahwa melalui phantom finger dapat membentuk sebuah parameter dalam menentukan ground truth, ketika kita sudah memiliki ground truth untuk mencoba ekstraksi data yang akan dipakai untuk rekognisi,” ungkap Pesi.

Pesi menambahkan bahwa riset ini menjadi sebuah upaya untuk memperluas pilihan dan keakuratan dalam identifikasi biometrik dalam penyidikan secara ilmiah. “Scientific Crime Investigation adalah sebuah cara dalam penerapan metode ilmiah dalam investigasi forensik. Secara gamblang dapat dideskripsikan dalam memadukan teknik prosedur dan juga teori ilmiah dalam melawan kejahatan maupun memenuhi keperluan investigasi kejahatan. Salah satu cara dalam investigasi ini yaitu menggunakan metode autentikasi yang memanfaatkan data identitas biologis,” jelas Pesi.

Iptu Eko Wahyu Bintoro, Pemeriksa Pertama PUSINAFIS BARESKRIM POLRI bertindak sebagai narasumber kedua. Ia menerangkan penyidikan secara ilmiah di kepolisian menggunakan beberapa metode yaitu Artificial Intelligence, deep learning, dan big data analytic. “Karena seiring berkembangnya jaman, teknologi pengenalan biometrik ini juga semakin berkembang jauh dan juga perlu menggunakan tools,” jelas Eko.

Ia menambahkan bahwa alat yang digunakan dalam penyidikan perlu standarisasi dari National Institute of Standards and Technology (NIST), namun dengan adanya biometrik pola pembuluh darah jari ini mampu memperkuat penyidikan secara ilmiah. “Biometrik ini kedepannya bisa diimplementasikan pada Scientific Crime Investigation dan untuk Preventive Crime,” pungkas Eko.