Scroll untuk baca artikel
banner 325x300
Example 970x250
Wisata

Mengenal Sejarah Minahasa di Benteng Moraya

×

Mengenal Sejarah Minahasa di Benteng Moraya

Share this article
Benteng Moraya
Example 468x60

Benteng Moraya. Bangunan serupa menara pengintai dengan 4 lantai ini, menjulang tinggi seolah mengingatkan era kejayaan Tou Minahasa di zaman dahulu.

Tempat wisata ini belum lama dibangun oleh pemerintah kabupaten Minahasa, setelah penemuan beragam kayu pondasi rumah orang Minahasa jaman dulu, serta waruga-waruga di tempat ini. Kini monumen benteng Moraya sudah dibuka untuk umum, bagi yang berminat untuk berkunjung serta belajar sejarah seputar suku Minahasa di zaman dulu, tempat ini wajib Anda kunjungi.

Example 300x600

Di sekeliling dinding luar monumen ini, terukir relief yang menceritakan bagaimana awalnya suku Minahasa terbentuk. Dicat dengan warna merah bata, kita juga bisa menelusuri marga-marga orang Minahasa yang tentunya tetap terjaga hingga saat ini. Pada beberapa bagian juga tampak ukiran yang menggambarkan perang Tondano, serta tulisan doa ‘Bapa Kami’ dalam bahasa Indonesia dan bahasa Inggris.

Perang Tondano sendiri merupakan kisah bersejarah lainnya yang menjadi sentral dari monumen ini. Berdasarkan beberapa riset tulisan, menceritakan bahwa daerah tempat berdirinya monumen benteng Moraya ini, di masa lalu pernah terjadi perang akbar antara orang Minahasa melawan tentara kolonial Belanda.

Perang yang terjadi di tahun 1800-an ini merupakan salah satu perang besar-besaran di masa tersebut. Daerah persawahan Tondano, sejak lama dikenal sebagai salah satu kawasan wisata yang menyejukkan bagi wisatawan. Terkenal dengan wisata kulinernya yaitu daerah ‘Boulevard Tondano” serta beragam tempat wisata di seputaran danau Tondano.

Kali ini kita akan berkunjung ke salah satu tempat wisata bernilai sejarah tinggi, yang juga terletak di kawasan ini yaitu Benteng Moraya. Bangunan serupa menara pengintai dengan 4 lantai ini, menjulang tinggi seolah mengingatkan era kejayaan Tou Minahasa di zaman dahulu. Tempat wisata ini belum lama dibangun oleh pemerintah kabupaten Minahasa, setelah penemuan beragam kayu pondasi rumah orang Minahasa jaman dulu, serta waruga-waruga di tempat ini.

Kini monumen benteng Moraya sudah dibuka untuk umum, bagi yang berminat untuk berkunjung serta belajar sejarah seputar suku Minahasa di zaman dulu, tempat ini wajib Anda kunjungi. Di sekeliling dinding luar monumen ini, terukir relief yang menceritakan bagaimana awalnya suku Minahasa terbentuk. Dicat dengan warna merah bata, kita juga bisa menelusuri marga-marga orang Minahasa yang tentunya tetap terjaga hingga saat ini.

Pada beberapa bagian juga tampak ukiran yang menggambarkan perang Tondano, serta tulisan doa ‘Bapa Kami’ dalam bahasa Indonesia dan bahasa Inggris. Relief di dinding bagian luar monumen Benteng Moraya yang memperlihatkan leluhur orang Minahasa, Lumimuut. Perang Tondano sendiri merupakan kisah bersejarah lainnya yang menjadi sentral dari monumen ini.

Berdasarkan beberapa riset tulisan, menceritakan bahwa daerah tempat berdirinya monumen benteng Moraya ini, di masa lalu pernah terjadi perang akbar antara orang Minahasa melawan tentara kolonial Belanda. Perang yang terjadi di tahun 1800-an ini merupakan salah satu perang besar-besaran di masa tersebut.

Dinding bagian dalam monumen Benteng Moraya ini juga dipenuhi dengan relief-relief sejarah. Para kepala Walak Minahasa sendiri berhasil mempertahankan kawasan benteng serta pemukiman Minawanua dalam waktu yang cukup lama, meski digempur tentara kolonial Belanda Meski begitu, akhirnya kawasan ini menjadi lautan darah dimana air sungai dan danau Tondano sendiri sampai disebutkan berwarna merah karena banyaknya pahlawan yang gugur waktu itu.

Nama Moraya sendiri berarti genangan darah, nama yang juga selalu mengingatkan akan kepahlawanan leluhur Minahasa, semangat juang serta berani berkorban. Semangat yang juga seharusnya kita maknai saat ini.